Senin, 04 Januari 2016

LAPORAN SEMINAR MATERI FPB DAN KPK SD


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan berasal dari bahasa Yunani “paedagogie” yang terbentuk dari kata “pais” yang berarti anak dan “again” yang berarti membimbing. Dari arti kata itu maka dapat didefinisikan secara leksikal bahwa pendidikan adalah bimbingan/petolongan yang diberikan kepada anak oleh orang dewasa secara sengaja agar anak menjadi dewasa. Dalam pengertian ini maka pendidikan adalah sarana pewarisan keterampilan hidup sehingga keterampilan yang telah ada pada satu generasi dapat dilestarikan dan dikembangkan oleh generasi sesudahnya sesuai dengan dinamika tantangan hidup yang dihadapi oleh anak.
Sedangkan, menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, yakni pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan bangsa.
Pada dasarnya tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan pembukaan UUD 1945 alinea keempat. Dalam usaha mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, setiap pendidikan di sekolah sangatlah membutuhkan sebuah pedoman yaitu kurikulum. Kurikulum adalah usaha menyeluruh yang dirancang khusus oleh pihak sekolah, guna membimbing murid untuk memeroleh hasil dari pembelajaran yang sudah ditentukan.
Dengan adanya kurikulum sekolah lebih mudah untuk membuat rancangan dalam pembelajaran. Dalam rancangan pembelajaran tersebut, terdapat sebuah Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) sebagai patokan agar pendidik tidak keluar dari jalur/pembahasan dalam proses pembelajaran sehingga lebih mudah lagi untuk pendidik dalam mencapai tujuan pendidikan.
Akan tetapi, pada kenyataan di lapangan dalam mencapai tujuan pendidikan itu tidak semudah ketika kita memahami teori dari tujuan pendidikan tersebut. Banyak sekali masalah-masalah yang sering dihadapi oleh pendidik dalam sebuah proses pembelajaran. Masalah-masalah tersebut baik muncul dari peserta didik, sarana prasarana, materi yang sulit, atau bahkan sistem pengajaran pendidik tersebut. Tetapi pada umumnya masalah yang sering dijumpai pada proses pembelajaran adalah kemampuan pemahaman siswa yang kurang terhadap sebuah materi yang disampaikan.
Pada dasarnya kemampuan dan karakteristik dari setiap peserta didik itu berbeda-beda, sehingga penerimaan dan pemahaman dari materi yang telah disampaikan pun berbeda dari masing-masing peserta didik. Hal tersebut dapat dilihat dan diukur dari hasil evaluasi yang telah dilakukan oleh pendidik tentang materi yang telah disampaikan. Salah satunya seperti yang terjadi pada siswa di kelas V SD Negeri Sudimara Timur, terdapat sebuah masalah yakni kurangnya pemahaman siswa pada mata pelajaran matematika khususnya dalam konsep FPB (Faktor Persekutuan Terbesar) dan KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil).
Menurut narasumber yang berperan sebagai guru kelas lima tersebut mengatakan, bahwa masih kurangnya pemahaman peserta didik terhadap konsep FPB dan KPK tersebut. Sehingga pada saat guru melakukan evaluasi terhadap materi tersebut sebagian peserta didik mendapatkan nilai yang kurang memuaskan. Menurut guru kelas tersebut, ketika proses pembelajaran ia telah melakukan pengajaran semaksimal mungkin dengan menggunakan media pohon faktor untuk mempermudah penyampaian materi tersebut. Mungkin karena mata pelajaran matematika yang terbilang cukup sulit dan konsep ini pun terbilang sulit pula untuk dimengerti jika pada saat memberikan pemahaman konsepnya kurang maksimal, sehingga seringkali permasalahan seperti ini ditemukan di setiap sekolah dasar khususnya di kelas V dengan masalah yang serupa.
Pada dasarnya Matematika itu sangat dibutuhkan di segala bidang dan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, pada kenyataannya matematika itu suatu mata pelajaran yang hampir setiap individu itu tidak menyukainya, mungkin karena pemikiran yang mendasari bahwa matematika itu sulit dimengerti atau karena faktor lainnya. Semaksimal mungkin pendidik mengusahakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan dengan tujuan agar peserta didik dapat menikmati pembelajaran dan memahami setiap pelajaran yang telah disampaikan, sehingga tujuan pendidikan dapat terlaksana dengan baik.
Usaha awal yang dapat dilakukan dengan cara menanamkan pemikiran kepada setiap peserta didik bahwa matematika itu tidak sesulit yang dibayangkan dan matematika itu bisa disangkutpautkan dengan aktivitas yang biasa dilakukan setiap individu. Selain itu, agar proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dapat juga merancang suatu strategi dalam pembelajaran. Dengan model, media, modul dan LKS (Lembar Kerja Siswa) yang sesuai dengan permasalahan yang sedang dihadapi, besar kemungkinan siswa untuk dapat memahami pelajaran tersebut. Salah satu contoh pelajaran Matematika yang sedang dihadapi di kelas V SD Negeri Sudimara Timur, peneliti menggunakan:
1.      Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
2.      Media pembelajaran berupa Permainanku
3.      Modul yang berjudul “Si Besar dan Si Kecil”
4.      LKS Kalender Gulali

B.     FOKUS KAJIAN
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dalam pembahasan sebelumnya pada bagian latar belakang, melalui penelitian ini akan dikaji permasalahan mengenai Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep FPB dan KPK di Kelas V SD Negeri Sudimara Timur dengan Menggunakan:
1.      Model Pembelajaran: Contextual Teaching and Learning (CTL)
2.      Media Pembelajaran: Permainanku
3.      Modul Pembelajaran: Si Besar dan Si Kecil
4.      Lembar Kerja Siswa (LKS): Kalender Gulali

C.    TUJUAN
Tujuan umum dilakukannya penelitian ini yaitu untuk meningkatkan pemahaman konsep FPB dan KPK di kelas V SD Negeri Sudimara Timur dengan menggunakan:
1.      Model Pembelajaran: Contextual Teaching and Learning
2.      Media Pembelajaran: Permainanku
3.      Modul pembelajaran: Si Besar dan Si Kecil
4.      Lembar Kerja Siswa (LKS): Kalender Gulali
Sedangkan tujuan khusus dilakukannya penelitian ini, yaitu:
1.      Untuk mengetahui permasalahan yang memengaruhi mutu pembelajaran khususnya di kelas V SD Negeri Sudimara Timur, yaitu kurangnya pemahaman dan rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika dalam konsep FPB dan KPK.
2.      Mengetahui faktor yang menyebabkan munculnya sebuah permasalahan yang terjadi terhadap siswa dalam memahami konsep FPB dan KPK.
3.      Dapat memunculkan solusi alternatif untuk mengurangi atau memecahkan masalah yang terjadi khususnya permasalahan yang sedang diamati yaitu kurangnya pemahaman dan rendahnya hasil belajar siswa pada konsep FPB dan KPK.
4.      Mengetahui perbandingan mutu belajar peserta didik pada saat pembelajaran yang guru telah ajarkan dengan model, media, modul dan LKS pembelajaran yang peneliti terapkan. Dengan melihat dari hasil belajar siswa melalui nilai dan tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai serta memahami materi tersebut.


BAB II
KAJIAN TEORI
A.    MODEL PEMBELAJARAN
  1. Pengertian Model Pembelajaran
Sebelum kita membahas tentang model pembelajaran, terlebih dahulu akan kita kaji apakah yang dimaksud dengan model? Secara kaffah model dimaknakan sebagai suatu objek atau konsep yang digunakan untuk mempresentasikan sesuatu hal. Sesuatu yang nyata dan dikonversi untuk sebuah bentuk yang lebih komprehensif (Meyer, W. J., 1985: 2). Sebagai contoh, model pesawat terbang, yang terbuat dari kayu, plastik, dan lem adalah model nyata dari pesawat terbang.
Sedangkan, model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain (Joyce, 1992: 4). Selanjutnya, Joyce menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan kita ke dalam mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
Adapun Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000: 10) mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah “kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar”.
Jadi, model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman untuk mempermudah suatu proses pembelajaran sehingga tujuan dari setiap mata pelajaran dapat tercapai dan tersampaikan dengan sepenuhnya.


  1. Macam-macam Model Pembelajaran
a.       Model Pengajaran Langsung (Direct Instruction)
1)      Pengertian Pengajaran Langsung
Pengajaran langsung adalah suatu model pengajaran yang bersifat teacher center. Menurut Arends (1997), model pengajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Selain itu model pengajaran langsung ditujukan pula untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memeroleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah.
Ciri-ciri model pengajaran langsung (dalam Kardi & Nur, 2000: 3) adalah sebagai berikut:
a)      Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian belajar;
b)      Sintaks atau satu pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran; dan
c)      Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil.
Selain itu, juga dalam pengajaran langsung harus memenuhi suatu persyaratan, antara lain: (1) ada alat yang akan didemonstrasikan; dan (2) harus mengikuti tingkah laku mengajar (sintaks).
2)      Kelebihan Pengajaran Langsung
a)      Dengan model pembelajaran langsung, guru menegndalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga dapat memperhatikan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa.
b)      Dapat diterapkan secara efektif dalam kelas yang besar maupun kecil.
c)      Dapat digunakan untuk menekankan poin-poin penting atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi siswa sehingga hal-hal tersebut dapat diungkapkan.
d)     Dapat menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan informasi dan pengetahuan faktual yang sangat terstruktur.
e)      Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan keterampilan-keterampilan yang eksplisit kepada siswa yang berprestasi rendah.
3)      Kelemahan Pengajaran Langsung
a)      Model pembelajaran langsung bersandar pada kemampuan siswa untuk mengasimilasikan informasi melalui kegiatan mendengarkan, mengamati, dan mencatat. Karena tidak semua siswa memiliki keterampilan dalam hal-hal tersebut, guru masih harus mengajarkannya kepada siswa.
b)      Dalam model pembelajaran langsung, sulit untuk mengatasi perbedaan dalam hal kemampuan, pengetahuan awal, tingkat pembelajaran dan pemahaman, gaya belajar, atau ketertarikan siswa.
c)      Karena siswa hanya memiliki sedikit kesempatan untuk terlibat secara aktif, sulit bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan interpersonal mereka.
d)     Karena guru memainkan peran pusat dalam model ini, kesuksesan strategi pembelajaran ini bergantung pada image guru. Jika guru tidak tampak siap, berpengetahuan, percaya diri, antusias, dan terstruktur, siswa dapat menjadi bosan, teralihkan perhatiannya, dan pembelajaran mereka akan terhambat.
e)      Terdapat beberapa bukti penelitian bahwa tingkat struktur dan kendali guru yang tinggi dalam kegiatan pembelajaran, yang menjadi karakteristik model pembelajaran langsung, dapat berdampak negatif terhadap kemampuan penyelesaian masalah, kemandirian, dan keingintahuan siswa.

b.      Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
1)      Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Artzt & Newman (1990: 448) menyatakan bahwa dala belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya.
Pembelajaran kooperatif bernaung dalam teori konstruktivis. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi, hakikat dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif.
Ide utama belajar kooperatif adalah siswa bekerja sama untuk belajar dan bertanggung jawab pada kemajuan belajar temannya. Sebagai tambahan, belajar kooperatif menekankan pada tujuan da kesuksesan kelompok, yang hanya dapat dicapai jika semua anggota kelompok mencapai tujuan atau penguasaan materi (Slavin, 1995). Johnson & Johnson (1994) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Karena siswa bekerja dalam suatu team, maka dengan sendirinya dapat memperbaiki hubungan di antara para siswa dari berbagai latar belakang etnis dan kemampuan, mengembangkan keterampilan-keterampilan proses kelompok dan pemecahan masalah (Louisell & Descamps, 1992). Zamroni (2000) mengemukakan pula bahwa manfaat penerapan belajar kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam input pada level individual.


2)      Beberapa variasi dalam Pembelajaran Kooperatif
a)      Student Teams Achievement Division (STAD)
Slavin (dalam Nur, 2000: 26) menyatakan bahwa pada STAD siswa ditempatkan dalam team belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja dalam team mereka memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Kemudian, seluruh siswa diberikan tes tentang materi tersebut, pada saat tes ini mereka tidak diperbolehkan saling membantu.
b)      Tim Ahli (Jigsaw)
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagia materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Sudrajat, 2008: 1).
c)      Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Investigasi kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Model ini dikembangkan pertama kali oleh Thelan. Dalam implementasi tipe investigasi kelompok guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5-6 siswa yang heterogen. Kelompok di sini dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topic tertentu. Selanjutnya, siswa memilih topic untuk diselidiki, dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih. Selanjutnya ia menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas.
d)     Think Pair Share (TPS)
Think Pair Share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Model pembelajaran TPS merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana. Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih bagaimana mengutarakan pendapat dan siswa juga belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi/tujuan pembelajaran. TPS dirancang untuk mempengaruhi interaksi siswa. Struktur ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok-kelompok kecil.
e)      Numbered Head Together (NHT)
Numbered Head Together (NHT) atau penomoran berpikir bersama adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternative terhadap struktur kelas tradisional. Humbered Head Together (NHT) pertama kali dikembangkan oleh Spenser Kagen (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
f)       Teams Games Tournament (TGT)
TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam kelompok mereka masing-masing. Dalam kerja kelompok guru memberikan LKS kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama-sama dengan anggota kelompoknya. Apabila ada dari anggota kelompok yang tidak mengerti dengan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertanggungjawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru. Akhirnya untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran, maka seluruh siswa akan diberikan permainan akademik seperti berupa pertandingan dalam permainan.

3)      Kelebihan pembelajaran Kooperatif
(a)    Dapat mengurangi rasa kantuk disbanding belajar sendiri
(b)   Dapat merangsang motivasi belajar
(c)    Ada tempat bertanya
(d)   Kesempatan melakukan resitasi oral
(e)    Dapat membantu timbulnya asosiasi dengan peristiwa lain yang mudah diingat
4)      Kelemahan Pembelajaran Kooperatif
(a)    Bisa menjadi tempat mengobrol atau gossip
(b)   Sering terjadi debat sepele di dalam kelompok
(c)    Bisa terjadi kesalahan kelompok
c.       Pengajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction)
1)      Pengertian Pengajaran Berbasis Masalah (Problem Based Instruction)
Istilah Pengajaran Berdasarkan Masalah (PBM) diadopsi dari istila Inggris Problem Based Instruction (PBI). Model pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewey. Menurut Dewey (dalam Sudjana 2001: 19) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dengan respons, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Secara umum pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.
Pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil sisw bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan macam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerja sama di antara siswa-siswa. Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan siswa.
2)      Kelebihan Pengajaran Berbasis Masalah (Problem Based Instruction)
(a)    Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
(b)   Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan peserta didik serta memberikan kepuasan untuk menentukan pengetahuan baru bagi peserta didik.
(c)    Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran peserta didik.
(d)   Pemecahan masalah dapat membantu peserta didik bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
(e)    Pemecahan masalah dapat membantu peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
(f)    Melalui pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai peserta didik.
(g)   Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
(h)   Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
(i)     Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat peserta didik untuk secara terus menerus belajar.
3)      Kelemahan Pengajaran Berbasis Masalah (Problem Based Instruction)
(a)    Manakala peserta didik tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
(b)   Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
(c)    Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
d.      Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
1)      Pengertian Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Berikut ini adalah karakteristik dari CTL, yaitu:
(a)    Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pe­ngetahuan yang sudah ada (activiting knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari.
(b)   Pembelajaran yang kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge).
(c)    Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pe­ngetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk di­pahami dan diyakini.
(d)   Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (apply­ing knowledge).
2)      Kelebihan Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual (CTL)
(a)    Pembeljaran lebih bermakna, artinya siswa melakukan sendiri kegiatan yang berhubungan dengan materi yang ada sehingga siswa dapat memahaminya sendiri.
(b)   Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan pengetahuan konsep kepada siswa karena pembelajaran CTL menurut siswa menemukan sendiri bukan menghafal.
(c)    Menumbuhkan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat tentang materi yang dipelajari.
(d)   Menumbuhkan rasa ingin tahu tentang materi yang dipelajari dengan bertanya kepada guru.
(e)    Menumbuhkan kemampuan dalam bekerjasama dengan teman yang lain untuk memecahkan masalah yang ada.
(f)    Siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dari kegiatan pembelajaran.
3)      Kelemahan Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual (CTL)
(a)    Bagi siswa yang tidak dapat mengetahui pembelajaran, tidak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang sama dengan teman lainnya karena siswa tidak mengalami sendiri.
(b)   Perasaan khawatir pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik siswa karena harus menyesuaikan dengan kelompoknya.
(c)    Banyak siswa yang tidak senang apabila disuruh bekerjasama dengan yang lainnya, karena siswa yang tekun merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain dalam kelompoknya.
e.       Pembelajaran Model Diskusi Kelas
1)      Pengertian Model Diskusi Kelas
Diskusi merupakan situasi di mana guru dan para siswa, atau antara siswa dengan siswa yang lain berbincang satu sama lain dengan berbagai gagasan dan pendapat mereka. Dalam pembelajaran diskusi mempunyai arti suatu situasi di mana guru dengan siswa atau siswa dengan siswa yang lain saling bertukar pendapat secara lisan, saling berbagi gagasan dan pendapat. Pertanyaan yang ditunjukkan untuk membangkitkan diskusi berada pada tingkat kognitif lebih tinggi, Arends (1997).
Pemanfaatan diskusi oleh guru mempunyai arti untuk memahami apa yang ada di dalam pemikiran siswa dan bagaimana memproses gagasan dan informasi yang diajarkan melalui komunikasi yang terjadi selama pembelajaran berlangsung baik antarsiswa maupun komunikasi guru dengan siswa.
2)      Kelebihan Model Diskusi Kelas
(a)    Metode diskusi melibatkan siswa secara langsung dalam proses belajar.
(b)   Setiap siswa dapat menguji pengetahuan dan penguasaan bahan pelajarannya masing-masing.
(c)    Metode diskusi dapat menumbuh dan mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah.
(d)   Dengan mengajukan dan mempertahankan pendapatnya dalam diskusi diharapkan para siswa akan dapat memperoleh kepercayaan akan (kemampuan) diri sendiri.
(e)    Metode diskusi dapat menunjang usaha-usaha pengembangan sikap sosial dan sikap demokratis para siswa.
3)      Kelemahan Model Diskusi Kelas
(a)    Suatu diskusi tidak dapat diramalkan sebelumnya mengenai bagaimana hasil sebab tergantung kepada kepemimpinan siswa dan partisipasi anggota-anggotanya.
(b)   Suatu diskusi memerlukan keterampilan-keterampilan tertentu yang belum pernah dipelajari sebelumnya.
(c)    Jalannya diskusi dapat dikuasai (didominasi) oleh beberapa siswa yang menonjol.
(d)   Tidak semua topic dapat dijadikan pokok diskusi, akan tetapi hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan.
(e)    Diskusi yang mendalam memerlukan waktu yang banyak.
(f)    Perasaan dibatasi waktu menimbulkan kedangkalam dalam diskusi sehingga hasilnya tidak bermanfaat.
(g)   Apabila suasana diskusi hangat dan siswa sudah berani mengemukakan pikiran mereka maka biasanya sulit untuk membatasi pokok masalahnya.
(h)   Sering terjadi dalam diskusi murid kurang berani mengemukakan pendapatnya.
(i)     Jumlah siswa di dalam kelas yang terlalu besar akan mempengaruhi setiap siswa untuk mengemukakam pendapatnya.
f.       Model Pembelajaran PAKEM
1)      Pengertian Model Pembelajaran PAKEM
PAKEM merupakan model pembelajaran dan menjadi pedoman dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan pelaksanaan pembelajaran PAKEM, diharapkan berkembangnya berbagai macam inovasi kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang partisipatif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Pembelajaran merupakan implementasi kurikulum di sekolah dari kurikulum yang sudah dirancang dan menuntut aktivitas dan kreativitas guru dan siswa sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan secara efektif dan menyenangkan. Ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Brooks bahwa. “pembaruan dalam pendidikan harus dimulai dari ‘bagaimana anak belajar’ dan ‘bagaimana guru mengajar’, bukan dari ketentuan-ketentuan hasil”. Untuk itu, guru harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai jenis-jenis belajar (multimetode dan multimedia) dan suasana belajar yang kondusif, baik eksternal maupun internal.
(a)    Pembelajaran Partisipatif
Pembelajaran partisipatif yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran secara optimal. Pembelajaran ini menitikberatkan pada keterlibatan siswa pada kegiatan pembelajaran (child center/student center) bukan pada dominasi guru dalam penyampaian materi pelajaran (techer center).
(b)   Pembelajaran Afektif
Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktivitas siswa dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatan pemahaman dan kompetensinya. Lebih dari itu, pembelajaran aktif memungkinkan siswa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti menganalisis dan mensintesis, serta melakukan penilaian terhadap berbagai peristiwa belajar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
(c)    Pembelajaran Kreatif
Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas siswa saat pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi, misalnya kerja kelompok, bermain peran, dan pemecahan masalah. Siswa dikatakan kreatif apabila mampu melakukan sesuatu yang menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh dari hasil berpikir kreatif dengan mewujudkan dalam bentuk sebuah hasil karya baru.
(d)   Pembelajaran Efektif
Pembelajaran mampu dikatakan efektif jika mmpu memberikan pengalaman baru kepada siswa membentuk kompetensi siswa, serta mengantarkan mereka ketujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan serta mendidik mereka dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran. Proses pelaksanaan pembelajaran efektif dilakukan melalui prosedur sebagai berikut: (1) melakukan appersepsi, (2) melakukan eksplorasi, yaitu memperkenalkan materi pokok  dan kompetensi dasar yang akan dicapai, serta menggunakan variasi metode, (3) melakukan konsolidasi pembelajaran, yaitu mengaktifkan siswa dalam membentuk kompetensi dan mengaitkan dengan kehidupan siswa, (4) melakukan penilaian, yaitu mengumpulkan fakta-fakta dan data/dokumen belajar siswa yang valid untuk melakukan perbaikan program pembelajaran.
(e)    Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran menyenangkan (joyfull instruction) merupakan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat suatu kohesi yang kuat antara guru dan siswa, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan (not under pressure) (Mulyasa, 2006: 194). Dengan kata lain, pembelajaran menyenangkan adalah adanya pola hubungan yang baik antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran.
2)      Kelebihan Model Pembelajaran PAKEM
(a)    Siswa selalu aktif.
(b)   Tujuan pembelajaran akan tercapai secara optimal.
(c)    Kelas menjadi menyenangkan dan kondusif.
(d)   Melatih siswa memiliki rasa tanggung jawab, berbagi rasa, saling menghormati dan menyayangi sesama manusia.
3)      Kelemahan Model Pembelajaran PAKEM
(a)    Tidak mudah merancang pembelajaran dengan perbedaan individu siswa.
(b)   Tidak efektif digunakan pada jumlah siswa yang besar di kelas.
(c)    Tugas terlalu banyak akan membuat anak bosan, apabila tak disertai penilaian.
(d)   Perlu kreatifitas guru dalam menciptakan beragam kegiatan yang dapat menyenangkan siswa, seperti memilih lagu dan merancang permainan.

  1. Model yang digunakan
Pada saat melakukan terjun lapangan nanti, peniliti merencanakan akan menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) pada konsep FPB dan KPK di kelas V SD Negeri Sudimara Timur. Tujuan peneliti menggunakan model CTL untuk memberikan variasi dalam pembelajaran matematika dengan menghubungkan konsep pelajaran dengan aktivitas keseharian yang dilakukan siswa. Salah satu contohnya seperti menghubungkan konsep materi FPB dan KPK ini dengan permainan yang sering dimainkan anak, seperti permainan gambaran/kartu bergambar dan permainan tepuk tangan. Peneliti berharap dengan menggunakan model ini dapat mempermudah siswa untuk lebih memahami tetang konsep FPB dan KPK. Berikut ini adalah syntax dari model Contextual Teaching and Learning (CTL):
1.      Mengembangkan pikiran anak akan belajar lebih bermakna dengan bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkrontruksikan sendiri pengetahuan dan ketermpilan barunya.
2.      Laksanakan sejauh mungkin kegiatan sendiri kegiatan inkuri untuk semua topic
3.      Kembangkan sifat ingin tahu mereka dengan bertanya
4.      Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).
5.      Hadirkan modal sebagai contoh pembelajaran.
6.      Lakukan repleksi di akhir pertemuan.
7.      Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

B.     HAKIKAT MATEMATIKA
Matematika merupakan pelajaran yang terdapat disetiap tingkatan pendidikan mulai dari Taman Kanak (TK) sampai ke Sekolah Menengah Atas (SMA). “Matematika yang mulanya diambil dari perkataan yunani, mathematike yang berarti “’relating to learning”, perkataan itu mempunyai akar mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu (Knowledge, Science). Sesuai dengan kurikulum KTSP yang mencakup bahwa ilmu pengetahuan termasuk pelajaran yang terdapat di sekolah.
Bruner (Ruseffendi, 1991) dalam metode penemuan mengungkapkan bahwa dalam pembelajaran matematika, siswa harus menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang diperlukannya. ‘menemukan’ disini terutama adalah menemukan lagi (discovery), atau dapat juga menemukan yang sama sekali baru (invention). Oleh karena itu, kepada siswa materi disajikan bukan dalam bentuk akhir dan tidak diberitahukan cara penyelesaiannya. Dalam pembelajaran ini, guru harus lebih banyak berperan sebagai pembimbing dibandingkan sebagai pemberi tahu.
Pada dasarnya perkembangan ilmu matematika tergantung pada pola piker manusia yang terus berkembang seiring berganti zaman. Hal ini sependapat dengan Johnson dan Rising yang dikutip Erman Suherman yaitu “matematika adalah pola berfikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik”. Menurut Kline yang dikutip Mulyono Abdurrahman “matematika merupakan bahasa simbolis dan ciri utamanya penggunaan cara bernalar deduktif, tetapi juga tidak melupakan cara bernalar induktif”.
Berdasarkan uraian yang telah disampaikan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang terdapat di sekolah. Pada tingkat sekolah dasar terdapat beberapa materi pembelajaran di kelas V SD, salah satunya adalah FPB dan KPK sebagai materi yang akan diuji dalam proses penelitian.

C.    ALAT PERAGA
  1. Pengertian Alat Peraga
Alat peraga adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyatakan pesan merangsang pikiran, perasaan dan perhatian dan kemampuan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar (Ali, 1989). Menurut Ruseffendi (1992), alat peraga adalah alat yang menerangkan atau mewujudkan konsep matematika. Sedangkan pengertian alat peraga metematika menurut Pramudjono (1995), adalah benda konkret yang dibuat, dihimpun, atau disusun secara sengaja digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep matematika.

  1. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar. Menurut Heinich, Molenda, dan Russel (1990) diungkapkan bahwa media is a channel of communication. Derived from the Latin word for “between”, the term refers “to anything that carries information between a source and a reciver.
Lisle J. Briggs (1979), menyatakan bahwa media pembelajaran sebagai “the physical means of conveying instructional content……book, films, videotapes, etc. Lebih jauh Briggs menyatakan media adalah “alat untuk memberi perangsang bagi peserta didik supaya terjadi proses belajar.
Rossi dan Breidle (1966), mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk tujuan pendidikan, seperti radio, televise, buku, koran, majalah, dan sebagainya. Menurut Rossi, alat-alat semacam radio dan televise kalau digunakan dan deprogram untuk pendidikan, maka merupakan media pembelajaran.
Namun demikian, media bukan hanya berupa alat atau bahan saja, akan tetapi hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan. Gelach dan Ely (1980: 244) menyatakan: “A medium, conceived is any person, material or event that establishs condition which enable the leaner to acquire knowledge, skill and attitude”. Menurut Gerlach secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memeroleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Jadi, dalam pengertian ini media bukan hanya alat perantara seperti tv, radio, slide, bahan cetakan, akan tetapi meliputi orang atau manusia sebagai sumber belajar atau juga berupa kegiatan semacam diskusi, seminar, karyawisata, simulasi dan lain sebagainya yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, mengubah sikap siswa atau untuk menambah keterampilan.
  1. Macam-macam Media Pembelajaran
Media pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa klasifikasi tergantung dari sudut mana melihatnya.
a.       Dilihat dari sifatnya, media dapat dibagi ke dalam:
1)      Media auditif, yaitu media yang hanya dapat didengar saja, atau media yang hanya memiliki unsur suara, seperti radio dan rekaman suara.
2)      Media visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mengandung unsur suara. Yang termasuk ke dalam media ini adalah film slide, foto, transparasi, lukisan, gambar, dan berbagai bentuk bahan yang dicetak seperti media grafis.
3)      Media audiovisual, yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang dapat dilihat, seperti rekaman video, berbagai ukuran film, slide suara, dan lain sebagainya. Kemampuan media ini dianggap lebih baik dan lebih menarik, sebab mengandung dua unsur jenis media yang pertama dan kedua.
b.      Dilihat dari kemampuan jangkauannya, media dapat pula dibagi ke dalam:
1)      Media yang memiliki daya liput yang luas dan serentak seperti radio dan televisi. Melalui media ini siswa dapat mempelajari hal-hal atau kejadian-kejadian yang actual secara serentak tanpa harus menggunakan ruangan khusus.
2)      Media yang mempunyai daya liput yang terbatas oleh ruang dan waktu, seperti film slide, film, video, dan lain sebagainya.
c.       Dilihat dari cara atau teknik pemakaiannya, media dapat dibagi ke dalam:
1)      Media yang diproyeksikan, seperti film, slide, film strip, transparasi, dan lain sebagainya. Jenis media yang demikian memerlukan alat proyeksi khusus, seperti film projector untuk memproyeksikan film, slide projector untuk memproyeksikan film slide, Over Head Projector (OHP) untuk memproyeksikan transparasi. Tanpa dukungan alat proyeksi semacam ini, maka media semacam ini tidak akan berfungsi apa-apa.
2)      Media yang tidak diproyeksikan, seperti gambar, foto, lukisan, radio, dan lain sebagainya.

Menurut Rudy Brets, ada 7 (tujuh) klasifikasi media, yaitu:
a.       Media audiovisual gerak, seperti film suara, pita video, film tv.
b.      Media audiovisual diam, seperti film rangkai suara.
c.       Audio semigerak, seperti tulisan jauh bersuara.
d.      Media visual bergerak, seperti film bisu.
e.       Media visual diam, seperti halaman cetak, foto, microphone, slide bisu.
f.       Media audio, seperti radio, telepon, pita radio.
g.      Media cetak, seperti buku modul, bahan ajar mandiri.
  1. Kelebihan Media
a.       Memperjelas penyajian pesan agar tidak telalu verbalistis (dalam bentuk kata-kata, tertulis, atau lisan belaka).
b.      Mengatasi perbatasan ruang, waktu dan daya indera.
c.       Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi sifat pasif anak didik dapat diatasi.
  1. Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran
Secara khusus media pembelajaran memiliki fungsi dan berperan seperti yang dijelaskan berikut ini.
a.       Menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu
Peristiwa-peristiwa penting atau objek yang langka dapat diabadikan dengan foto, film atau direkam melalui video atau audio, kemudian peristiwa itu dapat disimpan dan dapat digunakan manakala diperlukan.
b.      Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu
Melalui media pembelajaran, guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak menjadi konkret sehingga mudah dipahami dan dapat menghilangkan verbalisme. Misalkan untuk menyampaikan peredaran darah pada manusia, dapat disajikan melalui film.
Selain itu, media pembelajaran juga dapat membantu menampilkan objek yang terlalu besar yang tidak mungkin dapat ditampilkan di dalam kelas, atau menampilkan objek yang terlalu kecil yang sulit dilihat dengan menggunakan mata telanjang. Benda atau objek yang terlalu besar misalkan alat-alat perang, berbagai binatang buas, benda-benda langit, dan lain sebagainya. Untuk menampilkan objek tersebut guru dapat memanfaatkan film slide, foto-foto, atau gambar. Benda-benda yang terlalu kecil, misalkan bakteri, jamur, virus dan lain sebagainya, dapat dipelajari dengan memanfaatkan mikroskop, atau micro projector.
c.       Menambah gairah dan motivasi belajar siswa
Penggunaan media dapat menambah motivasi belajar siswa sehingga perhatian siswa terhadap materi pembelajaran dapat lebih meningkat.
d.      Media pembelajaran memiliki nilai praktis
1)      Media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki siswa.
2)      Media dapat mengatasi batas ruang kelas.
3)      Media dapat memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
4)      Media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan.
5)      Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, nyata dan tepat.
6)      Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang peserta untuk belajar dengan baik.
7)      Media dapat membangkitkan keinginan dan minat baru.
8)      Media dapat mengontrol kecepatan belajar siswa.
9)      Media dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dari hal-hal yang konkret sampai yang abstrak.
Menurut Kemp dan Dayton (1985), media memiliki kontribusi yang sangat penting terhadap proses pembelajaran. Di antara kontribusi tersebut menurut kedua ahli tersebut sebagai berikut:
a.       Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar.
b.      Pembelajaran dapat lebih menarik.
c.       Pembelajaran menjadi lebih interaktif.
d.      Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek.
e.       Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan.
f.       Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan di manapun diperlukan.
g.      Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan.
h.      Peran guru berubah kea rah yang positif, artinya guru tidak menempatkan diri sebagai satu-satunya sumber belajar.
  1. Media Pembelajaran yang Digunakan
a.       Permainanku
1)      Alat dan bahan
(a)    Gambaran/kartu bergambar
(b)   Siswa
2)      Cara penggunaan
Saat guru telah menyampaikan konsep dasar dari materi yang sedang diajarkan pada kegiatan proses belajar mengajar. Di pertengahan pembelajaran guru mengajak siswa untuk bernalar menggunakan permainan yang biasanya sering dijumpai oleh siswa, seperti permainan gambaran/kartu bergambar, missal guru memberikan beberapa gambaran/kartu bergambar dan siswa diminta untuk berpikir kritis pada saat pemahaman konsep FPB. Kemudian, siswa diajak bermain tepuk tangan, missal guru menginstruksikan ketika penyebutan angka berkelipatan 2 maka siswa harus bertepuk tangan.
b.      Flash
1)      Pengertin Flash
Flash mx merupakan program pembuatan anggih. Dengan animasi dan web yang canggih. Dengan menggunkan flash mx anda mampu membuat desain web yang interaktif sekaligus menarik.
Banyak sekali kelebihan yang dimiliki oleh flash mx, beberapa diantaranya:
(a)    Teknologi vector graphic yang di miliki flash memungkinkan sebuah movie atau gambar di ubah ukurannya tanpa mengurangi kualitas animasi atau gambar tersebut.
(b)   Waktu akses animasi atau gambar cepat dibandingkan dengan program pembuatan animasi yang lain seperti animated gifs maupun java applet.
(c)    Bersifat open evvironment sehingga dapat berinteraksi dengan beberapa program pengolahan web lain seperti dreamweaver dan fireworks. Selain itu, dapat berinteraksi dengan beberapa server side scripting seperti ASP, PHP, dan CGI.
(d)   Mampu membuat animasi secara streaming sehingga sebuah movie atau animasi akan langsung dimainkan sekalipun proses loading belum selesai seluruhnya.
(e)    Mampu membuat desain web yang interaktif.
(f)    Dapat dibuka, disimpan, dan dijalankan kedalam format program flash versi sebelumnya, yaitu flash mx.
(g)   Mempunyai fasilitas yang lengkap dan fleksibel untuk menunjang para desiger web membuat karyanya.
(h)   Memungkinkan esigner melakukan editing objek symbol pada tempatnya.
(i)     Mempunyai kemudahan dalam melakukan import video clip dalam banyak pilihan format file.
(j)     Memudahkan desiger membuat animasi mask dengan menempatkan movie clip pada layer mask.
2)      Alat dan bahan
a)      Laptop
b)      Aplikasi macromedia flash
c)      Panduan google
d)     Flashdisk
3)      Cara pembuatan
a)      Sebelum membuat media flash ini, kita harus memiliki aplikasi Adobe Flash terlebih dahulu di computer/laptop yaitu dengan cara mendownload dan menginstal aplikasi tersebut.
b)      Menyiapkan konsep atau sketsa gambar sesuai keinginan masing-masing pada layar yang telah disediakan.
c)      Buatlah gambar yang telah disketsa yang akan dibuat dengan menggunakan aplikasi Adobe Flash.
4)      Cara penggunaan
Cara menggunakan media Flash sangat mudah. Pertama siapkan laptop terlebih dahulu. Kemudian sambungkan laptop dengan proyektor menggunakan kabel data, lalu nyalakan proyektor tersebut dengan menekan tombol “ON”. Ketika laptop telah tersambungkan dengan proyektor, tampilkanlah media flash yang sebelumnya telah dibuat. Kemudian perintahkan siswa untuk mengamati materi pada media flash yang sedang ditayangkan. Kemungkinan besar siswa akan merasa tertarik untuk mengamati flash tersebut karena pada flash ini menggunakan aplikasi-aplikasi yang menarik, sehingga tidak membuat siswa menjadi bosan.

D.    MODUL PEMBELAJARAN
  1. Pengertian Modul
Modul adalah sarana pembelajaran dalam bentuk tertulis atau cetak yang disusun secara sistematis, memuat materi pembelajaran, metode, tujuan pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar atau indikator pencapaian kompetensi, petunjuk kegiatan belajar mandiri (self intructional), dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menguji diri sendiri melalui latihan yang disajikan dalam modul tersebut. Buku siswa (modul, diktat) merupakan buku panduan bagi siswa dalam kegiatan pembelajaran yang memuat materi pelajaran, kegiatan penyelidikan berdasarkan konsep, kegiatan sains, informasi, dan contoh-contoh penerapan sains dalam kehidupan sehari-hari.
Modul memiliki sifat self contained, artinya dikemas dalam satu kesatuan yang utuh untuk mencapai kompetensi tertentu. Modul juga memiliki sifat membantu dan mendorong pembacanya untuk mampu membelajarkan diri sendiri (self instructional) dan tidak bergantung pada media lain (self alone) dalam penggunaannya.
Selain itu, buku bacaan ini juga sebagai panduan belajar baik dalam proses pembelajaran di kelas maupun belajar mandiri. Materi ajar berisikan garis besar bab, kata-kata yang dapat dibaca pada uraian materi pelajaran, tujuan yang memuat tujuan yang hendak dicapai setelah mempelajari materi ajar, materi pelajaran berisikan uraian materi pelajaran yang harus dipelajari, bagan atau gambar yang mendukung ilustrasi pada uraian materi, kegiatan percobaan menggunakan alat dan bahan sederhana dengan teknologi sederhana yang dapat dikerjakan oleh siswa, uji diri setiap submateri pokok, dan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari yang perlu didiskusikan.
  1. Tujuan dan Manfaat Penyusunan Modul
Salah satu tujuan penyusunan modul adalah menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik materi ajar dan karakteristik siswa, serta setting atau latar belakang lingkungan sosialnya.
Modul memiliki berbagai manfaat, baik ditinjau dari kepentingan siswa maupun dari kepentingan guru. Bagi siswa, modul bermanfaat antara lain:
a.       Siswa memiliki kesempatan melatih diri belajar secara mandiri;
b.      Belajar menjadi lebih menarik karena dapat dipelajari di luar kelas dan di luar jam pembelajaran;
c.       Berkesempatan mengekspresikan cara-cara belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya;
d.      Berkesempatan menguji kemampuan diri sendiri dengan mengerjakan latihan yang disajikan dalam modul;
e.       Mampu membelajarkan diri sendiri;
f.       Mengembangkan kemampuan siswa dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya.
Bagi guru penyusunan modul bermanfaat karena:
a.       Mengurangi kebergantungan terhadap kesediaan buku teks;
b.      Memperluas wawasan karena disusun dengan menggunakan berbagai referensi;
c.       Menambah khazanah pengetahuan dan pengalaman dalam menulis bahan ajar;
d.      Membangun komunikasi yang efektif antara dirinya dan siswa karena pembelajaran tidak harus berjalan secara tatap muka;
e.       Menambah angka kredit jika dikumpulkan menjadi buku dan diterbitkan.
  1. Kelebihan Modul
Tjipto (1991: 72) mengemukakan beberapa keuntungan yang diperoleh jika menggunakan modul, antara lain:
a.       Motivasi siswa dipertinggi karena setiap kali siswa mengerjakan tugas pelajaran dibatasi dengan jelas dan yang sesuai dengan kemampuannya.
b.      Sesudah pelajaran selesai, guru dan siswa mengetahui benar siswa yang berhasil dengan baik dan mana yang kurang berhasil.
c.       Siswa mencapai hasil yang sesuai dengan kemampuannya.
d.      Beban belajar terbagi lebih merata sepanjang semester.
e.       Pendidikan lebih berdaya guna.
  1. Kelemahan Modul
Menurut Suparman (1993: 197), menyatakan bahwa bentuk kegiatan belajar mandiri ini mempunyai kekurangan-kekurangan sebagai berikut:
a.       Biaya pengembangan bahan tinggi dan waktu yang dibutuhkan lama.
b.      Menentukan disiplin belajar yang tinggi yang mungkin kurang dimiliki oleh siswa pada umumnya dan siswa yang belum matang pada khususnya.
c.       Membutuhkan ketekunan yang lebih tinggi dari fasilitator untuk terus menerus memantau proses belajar siswa, memberi motivasi dan konsultasi secara individu setiap waktu siswa membutuhkan.
  1. Modul yang digunakan
Modul yang digunakan diberi judul Si Besar dan Si Kecil. Mengapa diberi judul seperti itu? Karena pada modul ini akan membahas materi FPB dan KPK, yang mana kita ketahui bahwa FPB singkatan dari Faktor Persekutuan Besar sehingga menimbulkan kata “Si Besar” dan KPK singkatan dari Kelipatan Persekutuan Terkecil sehingga memunculkan kata “Si Kecil”. Pada modul ini akan membahas tentang pengertian FPB dan KPK beserta contoh dan cara pengoperasiaannya ditambahkan juga dengan latihan untuk siswa tentang konsep dasar materi yang dibahas.




E.     LKS (LEMBAR KERJA SISWA)
  1. Pengertian LKS (Lembar Kerja Siswa)
Lembar kerja siswa adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau pemecahan masalah. Lembar kerja siswa merupakan salah satu jenis alat bantu pembelajaran. Secara umum, lembar kerja siswa merupakan perangkat pembelajaran sebagai pelengkap atau sarana pendukung pelaksanaan Recana Pembelajaran (RP).
Lembar kerja siswa dapat berupa panduan untuk latihan pengembangan aspek kognitif maupun panduan untuk pengembangan semua aspek pembelajaran dalam bentuk panduan eksperimen atau demonstrasi.
Lembar kerja siswa berupa lembaran kertas yang berupa informasi maupun soal-soal (petanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa). Selain itu, lembar kerja siswa memuat sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh siswa untuk memaksimalkan pemahaman dalam upaya pembentukan kemampuan dasar sesuai indikator pencapaian hasil belajar yang harus ditempuh.
Lembar kerja siswa ini sebaiknya dirancang oleh guru sesuai dengan pokok bahasan dan tujuan pembelajarannya. Lembar kerja siswa dalam kegiatan belajar mengajar dapat dimanfaatkan pada tahap penanaman konsep (menyampaikan konsep baru) atau pada tahap pemahaman konsep (tahap lanjutan dari penanaman konsep) karena lembar kerja siswa dirancang untuk membimbing siswa dalam mempelajari topik. Pada tahap pemahaman konsep, lembar kerja siswa dimanfaatkan untuk mempelajari pengetahuan tentang topik yang telah dipelajari, yaitu penanaman konsep (Lestari, 2006: 19).
Komponen-komponen lembar kerja siswa meliputi: judul eksperimen, teori singkat tentang materi, alat dan bahan, prosedur eksperimen, data pengamatan serta pertanyaan dan kesimpulan untuk bahan diskusi.



  1. Kelebihan LKS
a.       Memudahkan guru dalam penyampain materi pelajaran.
b.      Sebagai bahan ajar yang meminimalkan peran pendidik, namun lebih mangaktifkan peserta didik.
c.       Sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih.
d.      Sebagai bahan ajar yang mempermudah peserta didik untuk memahami materi yang diberikan.
e.       Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada peserta didik.
  1. Kelemahan LKS
a.       Buku LKS kurang atraktif
b.      Buku LKS tidak memberikan materi secara rinci
c.       Buku LKS tidak menggunakan hirarki pembelajaran
  1. LKS Kalender Gulali
LKS yang akan digunakan diberi nama “Kalender Gulali”. Mengapa Kalender Gulali? Karena pada pembuatan LKS ini terdapat sebuah kalender dan permen dalam bentuk pertanyaan cerita. Oleh karena itu, agar LKS ini terlihat menarik maka diambillah penamaan LKS yang berjudul “Kalender Gulali”.


BAB III
METODELOGI PENELITIAN
A.    PENELITIAN DESKRPTIF
  1. Pengertian Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya (Best, 1982: 119). Penelitian ini juga sering disebut noneksperimen, karena pada penelitian ini peneliti tidak melakukan kontrol dan memanipulasi variabel penelitian. Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis, fakta, dan karaktristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat.
Ada dua alasan yang menjadikan penelitian dekriptif begitu diminati oleh para peneliti:
a.       Dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian di lakukan dalam bentuk deskiptif,
b.      Metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia.
Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak melakukan manipulasi variabel dan tidak menetapkan peristiwa yang akan terjadi, dan biasanya menyangkut peristiwa-peritiwa yang saat sekarang terjadi. Dengan penelitian deskriptif ini, peneliti memungkinkan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan hubungan variabel atau asosiasi, dan juga mencari hubungan komparasi antar variabel.
Penelitian deskriptif mempunyai keunikan sebagai berikut:
a.       Penelitian deskriptif menggunakan kuesioner dan wawancara, seringkali memperoleh respon yang sangat sedikit, akibatnya bias dalam membuat kesimpulan.
b.      Penelitian deskriptif yang menggunakan observasi, kadangkala dalam pengumpulan data tidak memperoleh data yang memadai. Untuk itu diperlukan para observer yang terlatih dalam observasi, dan jika perlu membuat ceck list lebih dahulu tentang objek yang perlu dilihat, sehingga peneliti memperoleh data yang diinginkan secara objektif dan reliabel.
c.       Penelitian deskriptif juga memerlukan pemasalahan yang harus didefinisikan dan dirumuskan secara jelas, agar dilapangan, peneliti tidak mengalami kesulitan dalam menjaring data yang diperlukan
  1. Macam-macam Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif memiliki banyak jenis namun terdapat perbedaaan atas pandangan dan pengetahuan para ahli. Perbedaaan pandangan itu, dapat dilihat dari aspek bagaimana proses pengumpulan datanya.
Dari aspek bagaimana proses pengumpulan data dilakukan, macam-macam penelitian deskriptif minimal dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu laporan diri, studi perkembangan, studi kelanjutan, dan studi sosiometrik.
a.       Penelitian Laporan Diri (Self-Report Research)
Dalam penelitian self-report ini peneliti dianjurkan menggunakan teknik observasi secara langsung dan dianjurkan menggunakan alat bantu lain untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian.
b.      Studi Perkembangan (Developmental Study)
Studi perkembangan biasanya dilakukan dalam periode longitudinal dengan waktu tertentu, seringkali dilakukan oleh peneliti bidang pendidikan atau psikologi yang berkaitan dengan tingkah laku secara individu maupun kelompok. Dengan tujuan untuk menemukan perkembangan dimensi yang terjadi pada seorang responden. Setiap fenomena yang muncul didokumentasikan untuk digunakan sebagai informasi dalam menganalisa guna mencapai hasil penelitian.
c.       Studi Kelanjutan (Follow-up Study)
Studi kelanjutan dilakukan oleh peneliti untuk menentukan status responden setelah beberapa periode waktu tertentu memperoleh perlakuan. Dalam penelitian studi kelanjutan biasanya peneliti mengenal istilah antara output dan outcome. Output berkaitan dengan informasi hasil akhir dan Outcome biasanya menyangkut pengaruh suatu perlakuan.
d.      Studi Sosiometrik (Soiometric Study)
Sosiometrik adalah analisis hubungan antarpribadi dalam suatu kelompok individu. Prinsip teori studi sosiometrik pada dasarnya adalah menanyakan pada masing-masing anggota kelompok yang diteliti untuk menentukan dengan siapa dia paling suka, untuk bekerja sama dalam kegiatan kelompok.
  1. Kelebihan Penelitian Deskriptif
a.       Relatif mudah dilaksanakan.
b.      Dapat memeroleh informasi penting.
c.       Tidak menuntut adanya perlakuan manipulasi variabel,
d.      Pada studi tertentu hasil penelitian dapat dijadikan pertimbangan meramalkan situasi mendatang.
  1. Kelemahan Penelitian Deskriptif
a.       Menuntut ketajaman berpikir dalam menjelaskan fenomena.
b.      Umumnya hasil penelitian hanya berlaku pada saat ini dan belum berlaku pada masa yang akan dating.
c.       Untuk jenis studi tertentu memerlukan waktu yang relative lama, konsekuensinya biaya dan tenaga akan lebih besar
  1. Deskripsi Pencarian Masalah
Pada saat peneliti memasuki semester 5, ia mendapatkan tugas dari mata kuliah Seminar Problematika Pembelajaran SD yang menugaskan setiap mahasiswanya untuk melakukan wawancara dan observasi dalam pencarian permasalahan yang terjadi di SD khususnya permasalahan saat pembelajaran. Saya selaku peneliti berusaha mencari masalah yang tepat untuk dibahas dalam penelitian kali ini. Awalnya saya mewawancari seorang guru dari salah satu SD di daerah Balaraja, Kab. Tangerang. Ketika guru tersebut menyampaikan permasalahan yang terjadi di kelasnya, menurut saya permasalahn tersebut kurang tepat untuk dijadikan penelitian. Saat saya pulang ke rumah, saya pun berbincang-bincang tentang tugas saya ini dengan salah satu anggota keluarga saya. Kemudian ia memberikan saran kepada saya untuk melakukan wawancara dan observasi di SD dekat rumah, yaitu di SD Negeri Sudimara Timur, Ciledug, Kota Tangerang. Beberapa selang pergantian hari saya menghubungi guru yang bersangkutan untuk meminta izin melakukan wawancara mengenai sekolah. Kemudian saya mendatangi rumah salah satu guru di SD tersebut. Kebetulan saya tidak bisa melakukan wawancara di sekolah karena guru tersebut hanya mempunyai waktu pada hari senin-jum’at sedangkan hari sabtu dan minggu ia terdapat jadwal kuliah. Alhasil saya melakukan wawancara tersebut di luar jam kerja pada saat malam hari. Ketika saya melakukan wawancara saya menanyakan apakah terdapat permasalahan yang terjadi di kelas V yang diajarkan oleh ibu (guru) tersebut. Ternyata di kelas tersebut memiliki sebuah permasalahan pada mata pelajaran matematika konsep FPB dan KPK. Menurut keterangan narasumber, di kelas tersebut sebenarnya memiliki siswa-siswa yang pintar. Mungkin karena materi yang terbilang sulit alhasil siswa kurang memahami konsep dari FPB dan KPK bahkan saat guru melakukan evaluasi dengan memberikan test berbentuk soal hasilnya juga kurang memuaskan. Saya pun menanyakan metode apa yang digunakan dan adakah media yang digunakan saat pelajaran tersebut. Ibu tersebut menjelaskan dia menggunakan metode demonstrasi, tanya jawab, dan penugasan. Dia pun menggunakan media pula yaitu pohon faktor. Dari sana saya memikirkan dan memilih untuk mengangkat permasalahan ini yaitu meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Sudimara Timur pada mata pelajaran matematika konsep FPB (Faktor Persekutuan Terbesar) dan KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) untuk saya lakukan uji penelitian.
B.     PENGOLAHAN DATA
  1. Pengertian Pengolahan Data
Data adalah setiap kumpulan fakta. Data juga merupakan kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata. Pengolahan data adalah manipulasi data agar menjadi bentuk yang lebih berguna berupa informasi. Sedangkan informasi adalah hasil dari kegiatan-kegiatan pengolahan data yang memberikan bentuk yang lebih berarti dari suatu kegiatan atau peristiwa. Pengolahan data ini tidak hanya melibatkan perhitungan numeris tetapi juga operasi-operasi seperti klasifikasi data dan perpindahan data dari satu tempat ke tempat lain. Secara umum, kita mengasumsikan bahwa operasi-operasi tersebut dilaksanakan oleh beberapa tipe mesin atau computer, meskipun beberapa diantaranya dapat dioperasikan secara manual.
  1. Perancangan pengolahan data
Sebelum kegiatan pengumpulan data dilakukan, perlu dipersiapkan dahulu bagaimana rancangan untuk pengolahan/analisis datanya.
Tujuan rancangan pengolahan data:
a.       Agar tidak terjadi bias pengamatan terhadap variabel yang diteliti.
b.      Agar memudahkan dalam pemilihan alat dan metode analisis.
c.       Untuk menjaga konsistensi antara data yang akan dikumpulkan dengan alat atau metode analisis yang akan digunakan.
Faktor pemilihan rancangan pengolahan data:
a.       Tujuan dan jenis penelitian
b.      Model/jenis data
c.       Taraf/tingkat kesimpulan
  1. Metode pengumpulan data
Kualitas data tidak hanya ditentukan oleh reliabilitas dan validitas dari alat ukurnya saja, tetapi juga ditentukan oleh bagaimana cara pengumpulannya.
Beberapa aspek dalam proses pengumpulan data:
a.       Data apa yang akan dikumpulkan (what)
b.      Dengan apa data itu dikumpulkan (with)
c.       Darimana data akan dikumpulkan (where)
d.      Kapan data tersebut dikumpulkan (when)
e.       Bagaimana cara mengumpulkan (how)
Metode pengumpulan data:
a.       Observasi
Pengumpulan data melalu pengamatan dan pencatatan oleh pengumpul data terhadap gejala/peristiwa yang diselidiki pada objek penelitian.
Sifat:
Tidak ada interaksi antara objek yang diamati dengan pengamat/pengumpul data.
Kelebihan observasi:
1)      Data yang diperoleh up to date (terbaru) karena diperoleh dari keadaan yang terjadi pada saat itu (pada saat berlangsungnya peristiwa tersebut).
2)      Data lebih objektif dan jujur karena yang diteliti atau responden tidak dapat mempengaruhi pengumpulan data (menutup kemungkinan manipulasi).
Kelemahan observasi:
1)      Memerlukan banyak waktu.
2)      Tidak dapat digunakan untuk pengumpulan data masa lalu dan masa mendatang.
3)      Tidak dapat digunakan untuk pengumpulan data yang berkaitan dengan sikap dan motivasi serta perilaku responden.
Persiapan observasi:
1)      Isi pengamatan
2)      Data apa yang akan diamati?
3)      Objek pengamatan
4)      Apa/siapa yang diamati?
5)      Alat pengamatan
6)      Pengamatan langsung atau menggunakan alaat bantu?
7)      Waktu pengamatan
8)      Kapan pengamatan akan dilakukan?
9)      Dokumentasi pengamatan
10)  Pencatatan langsung atau menggunakan alat bantu?
b.      Survei
Pengumpulan data melalui permintaan keterangan/jawaban kepada sumber data dengan menggunakan daftar pertanyaan/kuisioner/angket sebagai alatnya.
Cara pemakaian kuisioner:
1)      Tatap muka dengan sumber data/responden secara kelompok atau perorangan melalui telepon
2)      Melalui pos (surat)
Sifat:
Terdapat interaksi antara objek yang diamati dengan pengamatan/pengumpulan data.
Kelebihan survei:
1)      Data yang diperoleh autentik, objektif, dan jujur karena berasal dari sumber data (responden) secara langsung.
2)      Dapat diterapkan untuk pengumpulan data dalam lingkup yang luas.
3)      Dalam hal tertentu, efisien dalam penggunaan waktu pengumpulan data.
Kelemahan survei:
1)      Ada informasi terselubung dari responden khususnya untuk informasi yang berkaitan dengan sifat, motivasi atau perilaku responden.
2)      Responden terkadang tidak menjawab apa adanya tetapi apa yang sebaiknya.
3)      Responden terlalu dibatasi pada jawaban-jawaban tertentu.
4)      Responden sering tidak mengembalikan kuisioner.
5)      Sering muncul jawaban-jawaban yang tidak diinginkan dan tidak sesuai dengan yang diinginkan.
Persiapan kuisioner:
1)      Perancangan kuisioner
2)      Deskripsikan maksud dari kuisioner kepada responden.
3)      Buat materi/daftar pertanyaan.
4)      Buat kode jawaban.
5)      Buat petunjuk menjawab pertanyaan.
6)      Uji kuisioner
7)      Lakukan uji coba kuisioner dan analisi kekurangan/kelemahan kuisioner.
8)      Perbaikan/penyempurnaan kuisioner
9)      Lakukan perbaikan dan penyempurnaan kuisioner dari hasil uji coba.
10)  Pemilihan responden
11)  Tetapkan secara jelas kriteria dan siapa responden yang akan diberikan kuisioner.
12)  Pelaksanaan
13)  Lakukan pembagian kuisioner dan tetapkan teknis pelaksanaannya.
c.       Interview/Wawancara
Pengumpulan data melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pewawancara (pengumpul data) dengan responden (sumber data).
Sifat:
Terdapat interaksi dan komunikasi antara pewawancara dengan responden.
Sebelum wawancara dimulai:
1)      Menerangkan maksud wawancara dikaitkan dengan tujuan penelitian.
2)      Menjelaskan mengapa responden dipilih untuk diwawancarai.
3)      Menjelaskan identitas da nasal usul pewawancara.
4)      Menjelaskan sifat wawancara: terbuka atau tertutup (rahasia).
Komponen dan faktor yang mempengaruhi dalam suatu wawancara:
1)      Pewawancara: karakteristik sosial, kemampuan, motivasi, rasa aman.
2)      Responden: karakteristik sosial, kemampuan, motivasi, rasa aman.
3)      Materi wawancara: kepekaan pertanyaan, kesukaran pertanyaan, subtansi.
4)      Situasi wawancara: waktu, tempat, kehadiran orang lain, sikap masyarakat.
5)      Situasi (lihat di agenda).
d.      Eksperimen/Percobaan
Pengumpulan data melalui pencatatan langsung dari percobaan/pengukuran.
Sifat:
Terdapat penggunaan alat ukur atau metode eksperimen tertentu.
Tahap eksperimen/percobaan:
1)      Identifikasi semua variabel yang relevan.
2)      Identifikasi variabel non eksperimen yang mungkin mengganggu eksperimen.
3)      Tentukan alat ukur atau instrumentasi yang dipakai.
4)      Tentukan rancangan dan metode eksperimen yang akan dilakukan.
5)      Tentukan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk eksperimen.
6)      Lakukan eksperimen/pengukuran.
7)      Catat data hasil eksperimen/pengukuran.
8)      Untuk mendapatkan eksperimen yang baik, perlu dilakukan eksperimen yang berulang-ulang.
  1. Pengolahan dan analisi data
Setelah data dikumpulkan, selanjutnya dilakukan pengolahan dan analisis data. Kegiatan analisis data dimaksudkan untuk memberi arti dan makna pada data serta berguna untuk memecahkan masalah dalam penelitian yang sudah dirumuskan. Sebelum analisis data dilakukan maka data perlu diolah terlebih dahulu.
Pengolahan data meliputi:
a.       Editing
Mengedit adalah memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh para pengumpul data. Tujuan daripada editing adalah untuk mengurangi kesalahan atau kekurangan yang ada di dalam daftar pertanyaan yang sudah diselesaikan sampai sejauh mungkin.
Pemeriksaan daftar pertanyaan yang telah selesai ini dilakukan terhadap:
1)      Kelengkapan jawaban.
2)      Keterbacaan tulisan.
3)      Kejelasan makna jawaban.
4)      Kesesuaian jawaban.
5)      Relevansi jawaban
6)      Keseragaman satuan data
b.      Koding
Koding adalah mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari para responden ke dalam kategori-kategori. Biasanya klasifikasi dilakukan dengan cara memberi tanda/kode berbentuk angka pada masing-masing jawaban.
Ada dua langkah di dalam melakukan koding, yaitu:
1)      Menentukan kategori-kategori yang akan digunakan.
2)      Mengalokasikan jawaban-jawaban responden pada kategori-kategori tersebut.
c.       Tabulating
Kegiatan untuk membuat tabel data (menyajikan data dalam bentuk tabel) untuk memudahkan analisis data maupun pelaporan. Tabel data dibuat sesederhana mungkin sehingga informasi mudah ditangkap oleh pengguna data maupun bagi bagian analisis data.
Analisis data:
Kegiatan analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam penelitian. Pemecahan masalah penelitian dan penarikan kesimpulan dari suatu penelitian sangat tergantung dari hasil analisis data ini. Sehingga perlu dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga tidak memberikan salah penafsiran terhadap hasil penelitian. Seorang peneliti (bagian analisis data) harus menguasi kemampuan keilmuan secara teknis dalam menerapkan metode analisis yang cocok. Metode analisis data yang dipilih harus disesuaikan dengan jenis penelitiannya. Pertimbangan pemilihan metode analisis dapat dilihat dari:
1)      Tujuan dan jenis penelitian
2)      Model/jenis data
3)      Tingkat/taraf kesimpulan
Penarikan kesimpulan
Kegiatan untuk memberikan penafsiran terhadap hasil analisis data. Pada penelitian yang menggunakan pengujian hipotesis penelitian, kesimpulan dapat ditarik dari hasil pengujian hipotesis.
  1. Metode Test dan Re-test
Sampel yang sama (sampel A) ditest pada waktu I dan kemudian di-re-test atau ditest kembali dengan menggunakan test yang sama pada waktu yang berlainan (waktu II). Misalkan hasil pada test H1 dan hasil re-test H2, maka dihitung korelasi antara H1 dan H2. Koefisien korelasi itu menunjukkan tingkat reliabilitas test itu.
Test dan re-test untuk menentukan reliabilitas hanya berhasil bila dilakukan dalam situasi yang stabil, artinya situasi sewaktu mengadakan test dan re-test hendaknya sama.
Secara ideal score untuk test dan re-test harus sama bagi semua individu yang diuji. Dalam eksperimen dengan veriabel, eksperimen itu dapat diduga bahwa perubahan skor itu adalah akibat dari variabel eksperimen itu. Perubahan itu adalah perubahan dalam sikap atau sifat yang diukur oleh test itu.
Keuntungan metode test dan re-test ini ialah bahwa test itu dapat dibandingkan secara langsung dengan test itu sendiri. Jika ternyata hasil test pertama dengan re-test banyak perbedaannya, maka perlulah tiap item dianalisis untuk mengetahui apakah item itu mampu atau tidak membedakan antara responden yang mempunyai sifat itu.
Selanjutnya metode test dan re-test ini mudah dilakukan dan hasilnya dapat segera dibandingkan.
Keberatan terhadap prosedur ini ialah bahwa para responden yang menjalani test itu dapat mengingat item-itemnya dan akan memberi jawaban yang sama pada re-test. Jadi kesamaan score dapat juga sebagian disebabkan oleh hasil ingatan para responden. Tentu dapat diperpanjang jangka waktu antara test dan re-test. Waktu yang panjang memperbesar kemungkinan timbulnya faktor-faktor lain yang tidak dapat dikuasai yang turut mempengaruhi hasil re-test.
Tidak ada patokan tentang lama interval antara test dan re-test, akan tetapi biasanya interval itu berkisar antara dua sampai empat minggu. Walaupun jarak waktu itu relatif singkat, masih perlu kita waspada terhadap pengaruh variabel-variabel tertentu. Kenyataan bahwa responden telah diberi test itu sudah merupakan variabel yang dapat mempengaruhi pribadi responden oleh sebab ada kemungkinan bahwa isi test itu menibulkan perubahan pada pribadinya. Variabel ini sukar sekali diperhitungkan.


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    KONDISI SEKOLAH
Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Sudimara Timur yang beralamatkan Jalan Winong Dalam, Sudimara Timur, Ciledug, Tangerang. Sekolah ini memiliki tempat yang strategis walaupun agak jauh dari jangkauan jalan besar. Dalam satu gedung sekolah ini, terdapat 3 (tiga) sekolah yang berbeda, yakni SD Negeri Sudimara Timur, SD Negeri Sudimara Timur 4. Tetapi peneliti mengadakan penelitian di sekolah SD Negeri Sudimara Timur 4, yang letak gedungnya di sebelah kiri ketika memasuki pagar sekolah.
Sekolah ini dikepalai oleh kepala sekolah yang bernama Hj. Sri Juminah, S. Pd., dan terdiri pula dari guru kelas, guru honorer, guru bidang studi dan staf tata usaha. Di sini terdiri dari beberapa kelas, yang setiap kelasnya rata-rata berisikan siswa kurang lebih sekitar 30-40 orang siswa. Anak-anak yang bersekolah di SD Negeri Sudimara Timur ini bukan hanya anak-anak yang tinggal di sekitar sekolah, melainkan dari tempat mana saja, tetapi khusus untuk warga yang berdomisili di daerah kecamatan ciledug.
Fasilitas-fasilitas yang terdapat di sekolah ini cukup baik untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar, antara lain ruang kepala sekolah, guru, ruang kelas, lapangan, peralatan olahraga, proyektor dan lain sebagainya. Selain itu kondisi kelas pun cukup baik, yang di dalamnya terdapat sepasang meja dan kursi untuk siswa dan guru, papan tulis, lemari kelas, serta banyak pula karya-karya siswa yang dipajang di sisi kelas.
Jika dilihat, keadaan SD Negeri Sudimara Timur ini cukup indah dan nyaman. Selain sekolah yang selalu dibersihkan setiap harinya terdapat juga penghijauan yang menghiasi bagian depan dan lapangan sekolah.

B.     HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Sudimara Timur pada hari Kamis, 3 Desember 2015 pukul 08.00-10.00 WIB. Penelitian kali ini dilakukan pada siswa kelas 5 dengan wali kelas yaitu Ibu Supriatin, S. Pd pada mata pelajaran Matematika dengan materi FPB (Faktor Persekutuan Terbesar) dan KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil). Pembelajaran ini dilakukan menggunakan model CTL (Contextual Teaching and Learning) yang ditambah dengan media permainanku, modul si besar dan si kecil, serta lks kalender gulali sebagai penunjang pembelajaran dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa pada konsep FPB dan KPK ini.
1.      Pembukaan
Pada saat peneliti melakukan kegiatan pembelajaran ternyata berbenturan dengan jadwal wali kelas 5 ini, yng kebetulan sedang mengikuti prajabatan pengangkatan cpns menjadi pns. Kemudian digantikan dengan guru pegganti yang bernama Bapak Agung Perdana, S. Pd. Pada saat saya memasuki ruang kelas Bapak Agung ini memimpin kegiatan proses belajar mengajar terlebih dahulu dan mengenalkan saya yang kebetulan akan mengajar pada hari itu. Setelah melakukan perkenalan saya langsung memulai kegiatan pembelajaran. Sebelumnya saya menanyakan kabar siswa dan ada atau tidaknya siswa yang berhalangan hadir. Syukur pada hari itu semua siswa hadir di tempat. Setelah menanyakan kabar, saya memberikan pretest kepada siswa yang bertujuan untuk mengukur mana yang tingkat kemampuan siswa pada materi FPB dan KPK ini.
Setelah saya melakukan pretest, sebelum memasuki pembelajaran saya mengadakan kegiatan ice breaking, agar anak tidak merasa jenuh dan bosan untuk mengikuti pembelajaran.
2.      Kegiatan Inti
Setelah melakukan ice breaking, kemudian saya melakukan tanya jawab pada siswa, apakah di kelas tersebut terdapat anak yang belum memahami tentang konsep FPB dan KPK. Ternyata memang terdapat beberapa anak yang belum memahami tentang konsep tersebut. Bahkan ada juga anak yang belum bisa membedakan mana FPB dan KPK. Kemudian saya mengeluarkan sebuah kartu bergambar yang terdiri dari 5 kartu bergambar kartun dan 15 kartu bergambar buah-buahan. Saat saya mengeluarkan gambar tersebut, saya menanyakan kepada siswa harus dibagi keberapa orangkah kartu ini agar tak tersisa? Pada awalnya anak-anak terdiam sejenak, kemudian beberapa menit ada salah satu siswa yang bernama Fahri menjawab 5 orang. Kemudian saya meminta Fahri untuk maju ke depan kelas dan menanyakan alasan kenapa ia menjawab 5 orang. Ia menjawab, “karena 5 dan 15 akan habis jika dibagi 5 bu”. Kemudian saya pun menanyakan kepada anak-anak apakah mereka mengerti maksud dari jawaban Fahri, mereka terdiam. Saya pun langsung memaparkan dan membahas tentang konsep FPB.
Setalah mengenalkan konsep FPB, selanjutnya membahas tentang KPK. Pada konsep ini, saya melakukan permainan bertepuk tangan, dengan instruksi jika saya menentukan sebuah angka, maka pada kelipatan angka tersebut anak tidak bertepuk tangan melainkan teriak “hore”. Pada awalnya anak-anak kurang sedikit paham dengan permainan ini. Kemudian saya memberikan contoh terlebih dahulu, pada kelipatan 5 tepuk tangan, lalu saya tunjuk untuk menyebut angka 1, dan kemudian di sampingnya meneruskan 2, 3, 4, “hore”. Akhirnya anak pun mengerti, dan saya membagi kelas menjadi 2 kelompok. Kemudian saya melakukan permainan tersebut. Selesai permainan tersebut dilakukan, saya pun meminta salah satu siswa untuk menyimpulkan maksud dari permainan ini. Setalah menyimpulkan, saya memberikan sebuah lembar kerja siswa mengenai materi FPB dan KPK.
3.      Penutup
Selesai anak menjawab soal LKS yang saya berikan. Kemudian sebagai penutup pembelajaran saya memberikan satu lembar kerja lagi, yakni posttest. Pada saat saya memberikan soal tersebut ada anak yang berkata kenapa kita dikasih soal matematika lagi bu. Saya pun menjawab karena pembelajaran pada pagi hari yaitu matematika. Setelah anak-anak mengisi soal tersebut, saya pun menutup pembelajaran dan memberi tahu mata pelajaran yang akan dipelajari selanjutnya, serta guru yang akan mengajar. Kemudian, saat saya menutup pembelajaran tepat sekali jam menunjukkan waktu istirahat, dan anak-anak pun lekas keluar ruangan pula.
C.    PEMBAHASAN
Pada pembahasan ini, akan membahas permasalahan bagaimana cara untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep FPB dan KPK di kelas 5 SD. Sebenarnya anak-anak di kelas tersebut sudah sedikit memahami tentang konsep ini, hanya saja kurang mendalami konsep tersebut.
1.      Tinjauan Tentang Pemahaman
a.       Pengertian Pemahaman
Beberapa definisi tentang pemahaman telah diungkapkan oleh beberapa ahli. Manurut Nana Sudjana, pemahaman adalah hasil belajar, misalnya peserta didik dapat menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri atas apa yang dibacanya atau didengarnya, memberi contoh lain dari yang telah dicontohkan guru dan menggunakan petunjuk penerapan pada kasus lain. Menurut Winkel dan Mukhtar (Sudaryono, 2012: 44) pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari, yang dinyatakan dengan menguraikan isi pokok dari suatu bacaan atau mengubah data yang disajikan ke dalam bentuk tertentu ke bentuk yang lain. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa pemahaman adalah kemampuan siswa dalam menguasai materi atau suatu hal yang bukan hanya dikuasai secara kognitif saja melainkan dapat dihubungkan dengan kehidupan atau dapat diaplikasikan dalam bentuk lain.
b.      Faktror-Faktor yang Mempengaruhi Pemahaman
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman sekaligus keberhasilan belajar siswa ditinjau dari segi kemampuan pendidikan adalah sebagai berikut:
1)      Tujuan
Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Perumusan tujuan akan mempengaruhi kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh guru sekaligus mempengaruhi kegiatan belajar siswa. Dalam hal ini tujuan yang dimaksud adalah pembuatan Tujuan Instruksional Khusus (TIK) oleh guru yang berpedoman pada Tujuan Instruksional Umum (TIU).
2)      Guru
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan pada peserta didik di sekolah. Guru adalah orang yang berpengalaman dalam bidang profesinya. Di dalam satu kelas peserta didik satu berbeda dengan lainnya, untuk itu setiap individu berbeda pula keberhasilan belajarnya.
3)      Peserta Didik
Peserta didik adalah orang yang dengan sengaja dating ke sekolah untuk belajar bersama guru dan teman sebayanya. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda, bakat minat dan potensi yang berbeda pula. Sehingga dalam satu kelas pasti terdiri dari peserta didik yang bervariasi karakteristik dan kepribadiannya.
4)      Kegiatan Pengajaran
Kegiatan pengajaran adalah proses terjadinya interaksi antara guru dengan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan pengajaran ini merujuk pada proses pembelajaran yang diciptakan guru dan sangat dipengaruhi oleh bagaimana keterampilan guru dalam mengolah kelas.
5)      Suasana Evaluasi
Keadaan kelas yang tenang, aman dan disiplin juga berpengaruh terhadap tingkat pemahaman peserta didik pada materi (soal) ujian yang sedang mereka kerjakan.  Hal itu berkaitan dengan konsentrasi dan kenyamanan siswa. Mempengaruhi bagaimana siswa memahami soal berarti pula mempengaruhi jawaban yang diberikan siswa. Jika hasil belajar siswa tinggi, maka tingkat keberhasilan proses belajar mengajar akan tinggi pula.
6)      Bahan dan Alat Evaluasi
Bahan dan alat evaluasi adalah salah satu komponen yang terdapt dalam kurikulum yang digunakan untuk mengukur pemahaman siswa. Alat evaluasi meliputi cara-cara dalam menyajikan bahan evaluasi, misalnya dengan memberikan butir soal benar-salah, pilihan ganda, menjodohkan, melengkapi dan essay.
2.      Tinjauan Tentang Mata Pelajaran Matematika Materi FPB dan KPK
a.       Hakekat Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar Belajar
Matematikan merupakan tentang konsep-konsep dan struktur abstrak yang terdapat dalam matematika serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur matematika. Belajar matematika harus melalui proses yang bertahan dari konsep yang sederhana ke konsep yang lebih kompleks. Setiap konsep matematika dapat dipahami dengan baik jika pertama-tama disajikan dalam bentuk konkrit. Russeffendi (1992) mengungkapkan bahwa alat peraga adalah alat untuk menerangkan/ mewujudkan konsep matematika sehingga materi pelajaran yang disajikan mudah dipahami oleh siswa.
Salah satu dari Standar Kompetensi Lulusan SD pada mata pelajaran matematika yaitu, memahami konsep bilangan pecahan, perbandingan dalam pemecahan masalah, serta penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari Depdiknas 2006. Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa pemahaman guru tentang hakekat pembelajaran matematika di SD dapat merancang pelaksanaan proses pembelajaran dengan baik yang sesuai dengan perkembanagan kognitif siswa, penggunaan media, metode dan pendekatan yang sesuai pula. Sehingga guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif serta terselenggaranya kegiatan pembelajaran yang efektif.
b.      Tujuan Pembelajaran Matematika 
Tujuan pembelajaran matematika di SD dapat dilihat di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan 2006 SD. Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1)      Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algortima, secara luwes, akurat, efesien, dan tepat dalam pemecahan masalah,
2)      Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika,
3)      Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirikan solusi yang diperoleh,
4)      Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah,
5)      Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika sifat-sifat ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. 
Selain tujuan umum yang menekankan pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa serta memberikan tekanan pada keterampilan dalam penerapan matematika juga memuat tujuan khusus matematika SD yaitu:
1)      Menumbuhkan dan mengembangkan ketrampilan berhitung sebagai latihan dalam kehidupan sehari-hari,
2)      Menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan matematika,
3)      Mengembangkan kemampuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut,
4)      Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin. 
c.       Ruang Lingkup Materi Matematika Sekolah Dasar
Mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan sekolah dasar meliputi aspek-aspek sebagai berikut: (1) bilangan, (2) geomteri, (3) pengolahan data Depdiknas, 2006. Cakupan bilangan antara lain bilangan dan angka, perhitungan dan perkiraan. Cakupan geometri antara lain bangun dua dimensi, tiga dimensi, tranformasi dan simetri, lokasi dan susunan berkaitan dengan koordinat. Cakupan pengukuran berkaitan dengan petbandingan kuantitas suaru obyek, penggunaan satuan ukuran dan pengukuran.
d.      Materi FPB dan KPK
Bilangan prima adalah bilangan bulat lebih dari satu yang hanya bisa terbagi habis oleh 1 dan bilangan itu sendiri. Contoh: 2, 3, 5, 7, 11, dll
Faktor prima adalah faktor-faktor dari suatu bilangan yang berbentuk bilangan prima. Sedangkan faktorisasi prima adalah suatu perkalian dari semua faktor-faktor primanya. Contoh:
Faktor dari 15 adalah 1, 3, 5, dan 15. Dari faktor-faktor 15 tersebut terdapat faktor prima, yaitu 3 dan 5. Jadi faktor prima dari 30 adalah 3 dan 5. Dan faktorisasi primanya adalah 3 x 5 = 15.
1)      FPB (Faktor Persekutuan Besar)
FPB (Faktor Persekutuan Besar) dari dua bilangan adalah suatu bilangan bulat positif terbesar yang dapat membagi habis kedua bilangan itu. Cara menentukan FPB dari dua bilangan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
(a)    Dengan menggunakan faktor dari kedua bilangan tersebut. Cara ini dilakukan dengan mencari faktor dari kedua bilangan tersebut, kemudian ambil dua faktor sama yang terbesar diantara keduanya. Cara ini hanya dapat dilakukan untuk bilangan kecil.
Contoh:
Mencari FPB dari 12 dan 30.
Faktor dari 12 adalah : 1,2,3,4,6,12
Faktor dari 30 adalah : 1,2,3,4,5,6,15,30
FPB dari 12 dan 30 adalah 6, karena 6 adalah faktor dari kedua bilangan tersebut yang terbesar adalah 6.
(b)   Dengan menggunakan pohon faktor. Cara ini hampir sama dengan menggunakan faktor kedua bilangan, tetapi lebih memudahkan untuk bilangan yang besar.
Contoh:
Mencari FPB dari 50 dan 90
Pohon faktor dari 50
Description: Description: Pohon faktor 50
Pohon faktor dari 90
Description: Description: Pohon faktor 90
Dari pohon faktor tersebut, terlihat bahwa:
faktor dari 50 = 2 x 5 x 5
faktor dari 90 = 2 x 3 x 3 x 5
Untuk mencari FPB dari kedua bilangan tersebut maka ambil faktor yang sama dari keduanya, dan ambil pangkat terkecil, dalam contoh tersebut faktor yang sama adalah 2 dan 5, dengan menggunakan pengkat terkecil yaitu 1.
jadi FPB nya adalah 
2 x 5 = 102 \times 5 = 10
2)      KPK (Kelipatan Persekutuan Kecil)
KPK (Kelipatan Persekutuan Kecil) dari dua bilangan adalah suatu bilangan bulat positif terkecil yang dapat dibagi habis oleh kedua bilangan itu.
Ada beberapa cara untuk mengetahui KPK suatu bilangan, yaitu :
(a)    Dengan mencari kelipatan yang sama diantara kedua bilangan.
Contoh :
Mencari KPK dari 4 dan 14
Kelipatan 4 = 4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32, …
Kelipatan 14 = 14, 28, 42, …
Dari kelipatan dua bilangan tersebut, terdapat 2 bilangan kelipatan sama yang terkecil yaitu 28, jadi KPK dari 4 dan 14 adalah 28.
(b)   Dengan menggunakan pohon faktor.
Mencari KPK dari 32 dan 42
Pohon faktor dari 32
Description: Description: Pohon faktor 32
Faktor dari 32 adalah = 25
Pohon faktor dari 42
Description: Description: Pohon faktor 42
Faktor dari 42 adalah = 2, 3, 7
Untuk mencari KPK dari kedua bilangan, ambil faktor dari kedua bilangan tersebut, ketika ada faktor yang sama maka ambil pangkat terbesar, kemudian kalikan semua faktor tersebut.
Jadi KPK dari 32 dan 42 adalah = 25 x 3 x 7 = 672
3.      Meningkatkan Pemahaman Konsep FPB dan KPK di kelas V SD Negeri Sudimara Timur
Belajar pada dasarnya adalah penambahan informasi dan kemampuan baru bagi peserta didik. Pada saat guru merencanakan kegiatan belajar yang baik agar dapat memunculkan pemahaman siswa pada suatu konsep memiliki faktor-faktor seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya.
Salah satu dari faktor tersebut adalah peserta didik. Kita mengetahui bahwa peserta didik itu memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga daya tangkapnya pun berbeda pula. Sebagai seorang pendidik haruslah professional dalam melakukan perancangan pembelajaran dan tidak ketinggalan pula pembelajaran yang bervariasi. Oleh karena itu, pada penelitian kali ini pada pembelajaran konsep FPB dan KPK menggunakan model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) serta ditambahkan dengan media permainanku, modul si besar dan si kecil, serta LKS kalender gulali yang berfungsi sebagai alat bantu penunjang proses pembelajaran.
Selain itu, faktor yang mempengaruhi pemahaman siswa yakni alat ukur dan evaluasi. Pada penilitian kali ini digunakan alat ukur awal yang disebut pretest. Pretest ini diberikan pada awal pembelajaran, agar pendidik mengetahui di mana letak kekurangan siswa dalam menguasai materi. Kemudian, pada akhir pembelajaran terdapat alat ukur pula yang disbut posttest. Posttest ini berfungsi untuk melihat apakah terdapat sebuah peningkatan pada peserta didik setelah mengikuti pembelajaran yang diberikan.
Pada saat pembelajaran, agar lebih efektif dan menyenangkan, diadakan juga ice breaking guna untuk merangsang kembali pemikiran siswa yang mungkin sudah lelah saat belajar, atau membuat siswa agar fokus kembali ke dalam pembelajaran.


BAB V
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang terdapat di kelas 5 SD Negeri Sudimara Timur diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran matematika konsep FPB dan KPK dengan menggunakan model CTL (Contextual Teaching and Learning), media permainanku, modul si besar dan si kecil, serta LKS kalender gulali dapat menunjang pelajaran dengan baik karena terlihat dari peningkatan yang dapat dicermati dari hasil perbandingan antara pretest dan posttest. Walaupun tidak semua siswa meningkat, ada beberapa yang mendapatkan nilai standar dan ada beberapa yang menurun tetapi dapat terlihat jelas bahwa nilai peningkatan itu lebih besar dibandingkan dengan jumlah penurunannya. Dengan pretest bernilaikan rata-rata 32.22 dan posttest 66.67 yang setiap jumlahnya dibagi dengan banyaknya siswa di kelas yakni 36 siswa. Berikut adalah daftar nilai yang mengalami peningkatan, tetap, dan penurunan hasil belajar:
No.
Nama
Pretest
Posttest
Ket.
1.
M Fahri H
65
100
N
2.
Revi M
55
100
N
3.
Dewa S Z
25
40
NS
4.
M Aikhal
45
50
NS
5.
Gilang H
55
50
NT
 Ket: N (Naik)
         NS (Nilai Standar)
         NT (Nilai Turun)





B.     SARAN
Mengembangkan suatu hal dalam kegiatan pembelajaran merupakan hal baik dan perlu dilakukan oleh setiap pendidik. Selain itu, hal tersebut pun dapat meningkatkan serta mengasah kemampuan pendidik dalam proses pembelajaran. Dalam menghadapi problematika seperti ini seharusnya pendidik harus memahami setiap kekurangan atau keganjalan yang muncul dalam diri siswa. Bukan hanya itu pendidik pun harus lebih mampu menguasai dan mengelola kelas dengan baik. Dari permasalahan yang muncul sseperti itu, sebagai pendidik pun harus memunculkan solusi yang terbaik dan memberikan yang terbaik pula sehigga tujuan pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik. Agar setiap tujuan pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik kepada peserta didik, bisa pula disajikan dengan hal yang berbeda pual, seperti penggunaan model yang beragam, media yang menarik dan penambahan permainan/ice breaking agar siswa tertarik untuk mengikuti pembelajaran tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Artikel Bagus. 2011. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif. (www.artikelbagus.com/2011/06/kelebihan-dan-kelemahan-pembelajaran-kooperatif/)
Basrowi, M & Suwandi. 2008. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas. Bogor: Ghalia Indonesia.
Elnasr. 2013. Model Pengajaran Langsung Direct Interaction. (https://elnasr.wordpress.com/2013/11/15/model-pengajaran-langsung-direct-instruction/)
Heruman. 2007. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Kajian Pustaka. 2013. Metode Diskusi dalam Belajar. (www.kajianpustaka.com/2013/01/metode-diskusi-dalam-belajar/)
Kajian Pustaka. 2013. Pengertian Kelebihan Kelemahan Modul Pembelajaran. (www.kajianpustaka.com/2013/03/pengertian-kelebihan-kelemahan-modul-pembelajaran/)
Mamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
M Lipschutz, Martin & Seymor Lipschutz. 1990. Pengolahan Data. Jakarta.
Rumah Belajar. Pembelajaran Pakem Pengertian dan Langkah Pakem. (www.rumahbelajar.web.id/pembelajaran-pakem-pengertian-langkah-dan-kelebihan-pakem/)
Sanjaya, Wina. 2008.  Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Sekolah Dasar. 2012. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran. (www.sekolahdasar.net/2012/05/kelebihan-dan-kelemahan-pembelajaran/)
Sigiarti, Yuni. 2011. Metode Penelitian Dibidang Komputer dan Teknologi Informasi. Dinas Pendidikan Provinsi Banten.
Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana.
www.sekolahdasar.net/2011/07/pembelajaran-matematika-di-sekolah/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar